TAWAKAL
Tawakal adalah kepercayaan penuh kepada Allah Ta‘ala dan bersandar kepada-Nya dalam segala urusan.
Allah telah memerintahkan tawakal dalam kitab-Nya yang mulia dan menjanjikan kecukupan bagi orang yang bertawakal kepada-Nya. Allah Ta‘ala berfirman:
“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupkan (keperluannya).”(QS. ath-Thalaq: 3)
Dan firman-Nya Ta‘ala:
“Dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal.”(QS. al-Ma’idah: 23)
Dalam hadis disebutkan:
“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Dia akan memberi kalian rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung: pagi hari burung itu keluar dalam keadaan lapar dan kembali di sore hari dalam keadaan kenyang.”
Ketahuilah bahwa tawakal tidak mensyaratkan meninggalkan sebab-sebab (usaha) yang telah Allah Ta‘ala tetapkan. Mengambil sebab tidaklah bertentangan dengan tawakal, disertai keyakinan kepada takdir Allah Ta‘ala. Bahkan manusia tidak boleh berpangku tangan dan meninggalkan usaha. Dan meninggalkan usaha membuat dirinya malas serta menelantarkan orang-orang yang menjadi tanggungannya. Dalam hadis disebutkan:
“Cukuplah seseorang dianggap berdosa apabila ia menelantarkan orang yang menjadi tanggungannya.”
Adapun orang yang tidak bekerja dan tidak berusaha, tidak menyibukkan dirinya dengan apa yang ada di tangan manusia (tidak meminta-minta), serta tidak pula berambisi berlebihan saat rezekinya sempit, Maka yang lebih utama baginya adalah melepaskan diri dari sebab-sebab (usaha-usaha) (secara lahir) dan menyibukkan diri dengan ibadah.
Namun orang yang tidak demikian, maka yang lebih utama baginya adalah berusaha secara langsung, dengan tetap tidak bergantung kepada usaha itu; melainkan bersandar kepada Penciptanya.
Tanda sikap tersebut adalah: hati tidak menjadi tenang karena sebab-sebab itu ketika ia ada, dan tidak menjadi gelisah ketika sebab-sebab itu hilang.
Makalah Tawakal
Makalah ini membahas tawakal sebagai salah satu akhlak utama dalam Islam yang berkaitan langsung dengan keimanan dan keyakinan hati seorang hamba kepada Allah Swt.
1. Hakikat Tawakal
Tawakal adalah menyerahkan seluruh urusan kepada Allah Swt dengan penuh keyakinan, setelah melakukan ikhtiar atau usaha secara maksimal. Tawakal bukan sikap pasrah tanpa usaha, tetapi perpaduan antara usaha lahiriah dan kepasrahan batin kepada Allah. Karena itu, tawakal bersumber dari hati yang beriman.
2. Kedudukan dan Tingkatan Tawakal
Tawakal merupakan cerminan tingkat keimanan seseorang. Semakin kuat tawakalnya, semakin tinggi pula keimanannya. Dalam makalah ini dijelaskan bahwa manusia memiliki tingkatan tawakal yang berbeda-beda, mulai dari tawakal para wali dan nabi, hingga tawakal yang lemah bahkan salah arah (bersandar pada selain Allah).
Menurut para ulama, tawakal memiliki tingkatan:
-
Tawakkul: hati merasa tenang dan yakin akan pertolongan Allah.
-
Taslim: penyerahan diri sepenuhnya karena sadar Allah Maha Mengatur.
-
Tafwidh: kepasrahan total, ridha terhadap segala ketentuan Allah tanpa keluh kesah.
3. Tawakal dalam Kehidupan Para Nabi
Makalah ini menegaskan bahwa para nabi adalah teladan tertinggi tawakal, di antaranya:
-
Nabi Hud AS yang tetap berdakwah meski diancam.
-
Nabi Ibrahim AS yang pasrah kepada Allah ketika dibakar, namun tetap berikhtiar.
-
Nabi Musa AS dan ibunya, yang menunjukkan tawakal luar biasa dalam situasi genting.
-
Nabi Muhammad SAW, terutama saat hijrah dan perang Badar, yang menunjukkan bahwa tawakal selalu diiringi dengan strategi, doa, dan usaha maksimal.
Dari kisah-kisah tersebut ditegaskan bahwa tawakal bukanlah nekat tanpa perhitungan, dan juga bukan pasrah tanpa usaha.
4. Manfaat Tawakal
Tawakal memberikan dampak besar dalam kehidupan, di antaranya:
-
Menenangkan hati dan pikiran.
-
Mengurangi stres dan kecemasan.
-
Meningkatkan kepercayaan diri.
-
Memperkuat hubungan dengan Allah Swt.
-
Membantu menghadapi kesulitan hidup.
-
Mencegah keputusasaan dan menumbuhkan rasa syukur.
5. Kesimpulan Utama
Makalah ini menyimpulkan bahwa tawakal adalah inti dari iman dan akhlak Islami, yang menuntut seseorang untuk:
-
Berusaha dengan sungguh-sungguh,
-
Berserah diri sepenuhnya kepada Allah,
-
Ridha terhadap hasil apa pun yang Allah tetapkan.
Kalimat penutup siap presentasi:
“Dengan tawakal, seorang mukmin bekerja dengan maksimal namun hatinya tetap tenang, karena ia yakin bahwa Allah-lah sebaik-baik Pengatur hasil.”
Hikmah ke-2: Antara Tajrīd dan Asbāb (Ringkas)
Hikmah ini mengajarkan keridhaan terhadap posisi hidup yang Allah tetapkan bagi setiap hamba.
Makna perkataannya:
-
Ingin tajrīd (meninggalkan usaha duniawi) padahal Allah menempatkan kita dalam asbāb (usaha dan pekerjaan), itu bisa menjadi nafsu tersembunyi—ingin terlihat zuhud, padahal belum waktunya.
-
Ingin asbāb (sibuk dunia) padahal Allah menempatkan kita dalam tajrīd, itu menunjukkan turunnya cita-cita rohani (himmah).
Tujuan Utama Hidup: Ibadah
-
Dunia (kerja, harta, aktivitas) bukan tujuan,
-
Dunia hanyalah sarana untuk membantu ibadah.
Asbāb dan Tajrīd
Keduanya jalan yang sah selama menunjang ibadah:
-
AsbābBerusaha melalui pekerjaan dan aktivitas dunia, dengan hati tetap bergantung kepada Allah.
-
TajrīdHidup sederhana dan fokus ibadah, dengan kecukupan yang langsung Allah atur, biasa dialami para wali dan ahli zuhud.
Tidak satu pun lebih mulia secara mutlak; kemuliaan terletak pada ketaatan dan keikhlasan.
Kesimpulan Singkat
Prinsip hidupnya:
“Aku ridha di posisi yang Allah tempatkan aku, dan aku tetap beribadah di dalamnya.”
Komentar
Posting Komentar