Ilmu Tasawuf

 Tasawuf adalah keluar dari setiap akhlak yang hina, dan masuk ke dalam setiap akhlak yang mulia.

Apabila seorang hamba menghiasi dirinya dengan akhlak-akhlak mulia yang diajarkan dalam sunnah Nabi, serta melepaskan diri dari lawan-lawannya berupa akhlak-akhlak tercela, maka ia disebut seorang sufi.

Maka, tasawuf itu adalah akhlak yang baik. Barangsiapa lebih unggul darimu dalam akhlaknya, berarti ia lebih unggul darimu dalam tasawuf.

Dalam hadits disebutkan:

“Sesuatu yang paling berat yang diletakkan dalam timbangan amal seorang hamba pada hari kiamat adalah akhlak yang baik.”

Dan dalam hadits yang lain:

“Sesungguhnya seorang mukmin dapat mencapai derajat orang yang rajin berpuasa dan rajin shalat malam karena baiknya akhlaknya.”

Abu Hamid al-Ghazali juga merangkum akhlak-akhlak terpuji menjadi sepuluh, di antaranya:

  1. Taubat
  2. Takut (kepada Allah)
  3. Zuhud
  4. Sabar
  5. Syukur (bersyukur kepada Allah atas nikmat-Nya)
  6. Ikhlas (memurnikan niat hanya karena Allah)
  7. Tawakal (berserah diri kepada Allah setelah berusaha)
  8. Mahabbah (cinta kepada Allah)
  9. Ridha (menerima ketentuan Allah dengan lapang dada)
  10. Mengingat kematian (selalu sadar bahwa hidup akan berakhir dan bersiap untuk akhirat)

tasawuf pada hakikatnya bukan sekadar pakaian, wirid, atau istilah-istilah khusus, tetapi inti tasawuf adalah perbaikan akhlak dan penyucian jiwa.

Kalimat “tasawuf adalah keluar dari setiap akhlak yang hina, dan masuk ke dalam setiap akhlak yang mulia” maksudnya: seseorang berusaha meninggalkan sifat-sifat buruk seperti sombong, iri, dengki, riya’, marah yang berlebihan, cinta dunia, dan kebencian; lalu menggantinya dengan sifat-sifat mulia seperti ikhlas, sabar, syukur, tawadhu’, kasih sayang, ridha, dan tawakal.

Jadi, ukuran seseorang dalam tasawuf bukan banyaknya penampilan lahiriah, tetapi sejauh mana akhlaknya menjadi baik.

Ketika seseorang menghiasi dirinya dengan akhlak yang diajarkan oleh Muhammad dan meninggalkan akhlak tercela, maka itulah jalan seorang sufi: membersihkan hati (تخلية) lalu menghiasinya dengan kebaikan (تحلية).

Ungkapan “barangsiapa lebih unggul darimu dalam akhlaknya, berarti ia lebih unggul darimu dalam tasawuf” mengajarkan bahwa derajat tasawuf tidak diukur dari banyaknya ibadah sunnah saja, tetapi dari kualitas akhlak. Bisa jadi ada orang yang ibadahnya biasa, tetapi akhlaknya sangat luhur, lisannya terjaga, hatinya bersih, dan manfaatnya besar bagi orang lain—maka kedudukannya tinggi di sisi Allah.

Hadits tentang beratnya akhlak baik di timbangan amal menunjukkan bahwa akhlak bukan perkara kecil. Sering kali orang meremehkan senyum, kelembutan, kejujuran, kesabaran, dan memaafkan, padahal itu memiliki bobot besar di akhirat.

Hadits kedua menjelaskan bahwa akhlak mulia dapat mengangkat derajat seseorang hingga menyamai orang yang rajin puasa sunnah dan qiyamul-lail. Mengapa? Karena menjaga akhlak itu berat: menahan marah, memaafkan saat mampu membalas, bersabar ketika disakiti, dan tetap berbuat baik kepada orang yang buruk kepada kita.

Kesimpulannya:
Tasawuf adalah proses membersihkan hati, memperbaiki akhlak, dan mendekatkan diri kepada Allah. Buah tasawuf yang benar terlihat pada akhlak yang semakin baik, bukan sekadar simbol lahiriah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TANDA TANDA KIAMAT

ZUHUD

TAWAKAL